Mendesain Ide Saja, Tidak Cukup!

Banyak rancangan yang tak kunjung jadi peristiwa, tapi malah mendadak jadi kenangan. Kenangan dalam rupa rancangan; ide-ide ‘besar’ yang berseliweran di kepala, rencana-rencana yang kurang realistis, penuh bumbu idealistis. Ini mentalitas khas kita, bukan? Tak peduli waktu makin berjalan maju, kita justru tak lekas memilih satu saja dulu, yaitu “jadi diri sendiri.”

Menjadi diri sendiri tampaknya memang pilihan yang tidak begitu sulit ( Sesimpel seorang politisi mendesain personal branding). Lalu kita kerap membenturkannya dengan gagasan besar di kepala kita yang diisi penuh dengan mimpi-mimpi besar yang minim realisasi, beserta aneka rencana yang entah kapan beranjak dari kepala. Makin banyak dan besar ide itu sepertinya makin membuat kita jauh dari diri sendiri. Makin jarang ‘membatin’, makin suka berwacana, makin pandai merangkai kata-tanpa disusul karya nyata.

Ayo, be your self ! Slogan ini tampak keren dan terkesan gampang. Nyatanya selalu mudah terucap dari mulut para motivator, juga (barangkali) terdengar begitu merdu melalui khotbah para pendeta, seruan para pastor dan (entah) mungkin terdengar juga dari toa-toa masjid. Jargon itu acap kali memukau, membikin hati tersapa kendati hanya seketika. Setelahnya, back to your self again.

Kembali ke diri sendiri adalah cara terbaik untuk menjadi diri sendiri! Dengan hanya mendesain ide dan rancangan-rancangan besar saja, kita jadi sering lupa pulang. Pulang ke “kedalaman batin”, pulang ke rumah hati. Kita selalu mau pergi begitu saja dari diri sendiri. Jadi lupa diri, lupa mana yang kudu dituntaskan segera dan mana yang sebaiknya dikesampingkan dulu. Kita memang selalu merasa punya hambatan bila ada rindu untuk pulang; pulang ke relung hati, meneliti batin dan segera beranjak bersaksi dan beraksi untuk hal-hal baik.


Tinggalkan Balasan

1 + nine =