PANGGILAN: GRATITUDO ET VIA GAUDIUM

Syukur dan sukacita. Dua kata yang representatif untuk mengungkapkan hakikat panggilan. Panggilan selalu menyangkut kehidupan. Dan hidup yang penuh syukur dan sukacita adalah manifestasi yang konkret dari cara manusia menanggapi rahmat Allah. Hidup itu sendiri adalah panggilan (Populorum Progressio, 15). Paus Paulus VI mengungkapkan ini tentu bukan tanpa alasan. Baginya kodrat manusia adalah yang terpanggil: makhluk yang selalu dipanggil kepada kepenuhan. Di dalam dirinya, setiap pribadi bersatu dan berkolaborasi mengerjakan proyek Allah. Maka teramat perlu bagi kita menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama dengan rahmat panggilan Allah adalah dengan bersyukur dan bersukacita menghidupi pilihan sebagai pengikut-Nya.

Gratitudo (Syukur)

Sebaiknya kita mesti bertanya; ad quid venisti, untuk apa saya datang ke sini? Pertanyaan dasariah (ultimate question) seperti ini penting sebagai semacam alarm agar kita punya visi dalam hidup. Tinggal dan berdiam begitu saja dalam komunitas kerap kali menandakan ketiadaan daya kreatif untuk membikin hidup lebih berwarna dan penuh sukacita. Di seminari, setiap orang dituntut untuk punya daya kreatif, termasuk di saat ia harus bertindak bebas dan bertanggungjawab. Kreativitas itu diperlihatkan melalui kesungguhan untuk mengembangkan diri dalam pelbagai aspek. Seminaris yang malas adalah ia yang tidak bebas dan tidak bertanggung jawab. Dengan demikian ia tidak punya visi yang jelas. Ia belum “bertanya” serius ke dalam dirinya; ad quid venisti?

Sebagaimana pilihan hidup lainnya, pilihan untuk hidup dalam panggilan khusus sebagai seminaris akan selalu berada di bawah tuntutan-tuntutan dasariah. Di antaranya adalah membingkai diri dengan perspektif syukur. Syukur adalah akar dari kegembiraan. Dan karena itu, setiap seminaris harus selalu sadar dan tahu, lantas mempraktikkan dalam kesehariannya sikap-sikap yang digerakkan oleh rasa syukur itu, yang kemudian membuatnya sungguh bergembira. Bermalas-malasan, kurang peka, tidak santun, tidak kreatif, suka menuntut lebih, dan sebagainya jelas merupakan fakta yang sama sekali tidak memperlihatkan corak syukur dalam panggilan.

Maka kiranya perlu dan mendesak bagi setiap seminaris untuk berefleksi: aku yang banyak kelemahan ini toh “dipakai” Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya melalui panggilan khusus ini. Di seminari ini, segala hal bisa dengan mudah aku terima. Saya wajib mensyukurinya. Dan kini, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu” (Flp. 1:3).

Via Gaudium (Jalan Sukacita)

Via gaudium; jalan sukacita. Panggilan akan punya makna mendalam ketika dilalui dengan sukacita. Hal ini tidak berarti segala kecemasan, ketakutan, kegagalan, kelesuan, sama sekali tidak menyertai seseorang dalam menekuni panggilannya di seminari. Justru ketika kita menanamkan di dalam hati keyakinan bahwa panggilan itu menyenangkan dan menggembirakan, maka kita tidak begitu mudah menyerah pada kebosanan dan beragam tantangan dalam dinamika formasi.

Dalam konteks ini, ungkapan Paus Fransiskus selalu relevan, “sukacita adalah jawaban “Ya” yang setia terhadap panggilan Allah…”. Sebaliknya, bisa jadi bahwa kesedihan dan kelesuan merupakan jawaban “ya” yang tidak meyakinkan. Orang yang bergembira ialah dia yang sedang melewati jalan sukacita panggilan. Bersukacita dalam panggilan adalah sikap batin yang menginisiasi lahirnya beragam hal positif dalam hidup;  tidak mengeluh, giat, tekun dan bertanggungjawab dalam doa, kerja, belajar dan berteman. Jelas sekali bahwa implikasi praktis dari sikap sukacita terhadap panggilan itu terwujud dalam antusiasme untuk menghidupi  habitus formasi sebaik-baiknya, secara tulus, bertanggungjawab dan tanpa beban.

Dengan memaknai panggilan sebagai via gaudium, diharapkan agar segala bentuk tantangan dalam formasi tidak kemudian membuat kita mudah goyah dan kemudian rapuh dan jatuh. Jalan sukacita panggilan adalah sebuah jalan peziarahan. Kita adalah peziarah (Ibr 11:13) yang tidak berhenti berkreasi dan selalu mau bekerjasama dengan rahmat Allah. Hal ini memungkinkan kita untuk selalu berharap; “Jangan berdukacita seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tes. 4:13).

supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh. 15:11). Kita bersukacita sebagai pribadi yang diterima (oleh Allah dan sesama), kendati punya dosa dan kelemahan insani. Dalam iman kita yakin bahwa Allah berkata: “engkau penting bagi-Ku, Aku mencintaimu, Aku memperhitungkanmu.” Kita bersukacita karena dibutuhkan dan sukacita itu lahir dari rasa bangga dan sense of belonging terhadap panggilan. Dengan demikian, Kesedihan jadi pertanda merosotnya rasa bangga dan memudarnya kecintaan pada panggilan.

Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Panggilan ini dimulai dari inisiatif Allah. Mari kita (dengan keterbatasan yang ada) merespons dan menyanggupinya dengan antusias dan rasa syukur. Syukur dan sukacita mesti selalu menopang jalannya panggilan. Bahwa sering didapati ketidakmampuan “menyangkal diri”, itulah saat kita mencari Dia yang memanggil, sembari meneliti kondisi batin sendiri dan memberi kesempatan bagi perjumpaan riil dengan orang lain (sahabat, keluarga, orang-orang yang dipercaya).


Tinggalkan Balasan

1 × 5 =