DUA PENDOSA DENGAN SATU RANGKULAN

Kisah populer dalam Kitab Suci tentang ayah yang penuh belas kasih, seorang anak sulung yang iri hati dan anak bungsu yang durhaka, tentu tidak asing bagi kita. Tegangan dalam kisah bermula dari si bungsu yang meminta jatah warisan dan lalu pergi meninggalkan rumah untuk berfoya-foya menghabiskan harta ayahnya. Sedang anak sulung tetap tinggal dan bekerja bersama sang ayah. Si bungsu ternyata menyadari kesalahannya karena hidupnya menjadi sangat sulit, maka ia pulang dan kembali ke rumah. Sang ayah menyambut dengan pesta meriah. Si sulung iri dan marah luar biasa karena perlakuan istimewa ayahnya terhadap adiknya yang durhaka itu.

Kita mengarahkan fokus pada ketiganya; bungsu yang pergi, kakaknya yang iri dan ayah yang baik hati. Kita pastikan bahwa ayah adalah seorang bapa yang merangkul dengan belas kasih. Si bungsu wajib bertobat dan bahkan kakaknya, anak sulung itu pun mestinya meneladani kemurahan hati ayahnya. Ia tak pantas iri hati dan bahkan menaruh dendam pada adiknya. Singkatnya, baik kakak maupun adiknya adalah pendosa. Mereka berdosa dan hendak dirangkul oleh ayah mereka.

Jika hendak membandingkan kedua anak itu, siapa sesungguhnya yang harus membenah diri alias bertobat. Tentu saja fokus kita pertama-tama terarah kepada anak yang paling durhaka. Ia pergi meninggalkan rumah dan menghamburkan warisan keluarga. Pada saat yang sama, sang kakaknya setia berada di rumah dan membantu ayahnya bekerja. Tapi panggilan untuk bertobat juga pantas ditujukan kepadanya lantaran sikap cemburunya pada si bungsu. Ia tak sudi ayahnya merayakan kepulangan adiknya. Ia bahkan tak ingin merayakan sukacita kebersamaan dalam perayaan itu. Singkatnya, kedua-duanya memang seharusnya mengambil ‘jalan tobat’.

Mereka beruntung memiliki ayah yang pengasih dan tulus menerima kerapuhan diri mereka. Terutama si bungsu. Hati ayahnya luar biasa girang tatkala ia pulang. Ayahnya merayakan sukacita itu dengan pesta meriah, sebuah “proyek cinta kasih” yang diperuntukkan bagi semua. Proyek menyambut anak durhaka ini dihadiri oleh banyak undangan dengan hidangan istimewa. Dan tentu saja sebagai pesta keluarga, perayaan meriah ini juga mesti dinikmati oleh anak sulung supaya ia tidak terus-terusan terbelenggu dengan kecemburuannya.

Tobat: Pulang dan Terlibat
Sudut pandang yang terarah ke dosa anak bungsu tampaknya lumrah dan sudah selalu bisa diterima. Dosa dipahami sebagai situasi rusaknya relasi antara anak dan ayah-Allah dan manusia, kerapuhan insani, kekhilafan, kedegilan hati dan sebagainya. Untuk konteks kisah si bungsu, maka berdosa berarti orang tidak punya kerinduan untuk pulang, tidak mau pulang dan bahkan apatis terhadap panggilan untuk pulang. Dan tobat adalah kebalikannya: harmonisasi relasi dengan Allah, “mengambil jalan pulang” dan kembali ke rumah-Nya karena digerakkan oleh rasa rindu. Tugas selanjutnya adalah ikhtiar untuk membarui diri yang nyata dalam praksis hidup harian.

Sudut pandang berikutnya bisa kita maknai pula dari dinamika si anak sulung. Bagaimana semestinya ia bersikap? Jika ia bisa menyatu dengan suasana hati ayahnya, sebenarnya ia tidak perlu berlama-lama memendam rasa irinya. Sebab tindakan ayah merangkul si bungsu tidak bisa dipahami sebagai pengabaian yang keji terhadapnya. Bukan pula sebagai bentuk tindakan “pilih kasih” dari seorang ayah. Kasih ayahnya kepada anak durhaka tidak berarti meniadakan kasihnya yang sama kepada sang kakak. Keduanya toh tetap dirangkul dan diikutsertakan dalam pesta.

Di pintu gerbang pesta, sang ayah mengajak anak sulungnya untuk ikut masuk dan berpesta-ria. Dia yang iri hati itu diajak untuk terlibat dalam proyek kasih: sebuah tindak kreatif Allah dalam menyatakan belaskasihan dan kepeduliannya yang total bagi manusia pendosa. Bisa jadi di sinilah momen untuk menyelami pertobatan: apakah orang mau masuk ke ruang pesta, apakah ingin sungguh-sungguh terlibat berkarya dalam proyek kasih dan sukacita, apakah yakin ingin berpartisipasi secara kreatif dalam ruang yang sudah disediakan-Nya itu?

Makna tobat tidak berhenti pada “jalan pulang”. Ia mengharapkan manusia terlibat dalam karya kreatif Allah. Jika bertobat adalah tindakan untuk terlibat, maka dosa berarti sebaliknya: orang tidak terlibat dan tidak mau masuk ke ruang pesta yang disediakan Allah. Berdosa berarti tidak terlibat dan tidak ingin menjadi rekan kerja kreatif Allah (co-creator). Singkatnya, kita berdosa jika tidak solider dengan proyek kasih dan sukacita Allah.

Kita mesti tahu di mana kita berperan dalam proyek Allah. Tidak cukup kita hanya meratapi kerapuhan dan kelemahan insani, lalu tidak kreatif dalam mengupayakan kedamaian, sukacita, ketekunan, kegairahan dalam hidup beriman. Sukacita iman terwujud dalam antusiasme membangun persekutuan berlandaskan kasih dan kedamaian sebagaimana Allah yang merangkul pendosa, baik anak bungsu maupun anak sulung. Kasih Allah merangkul keduanya.

Dengan demikian kita yakin bahwa Allah memilih jalan damai, dan karena itu kita pun, kendati berdosa, tetap setia untuk pulang ke rumah-Nya dan terlibat dalam proyek kasih-Nya. Jika dua pendosa dengan satu rangkulan kasih Allah itu mengalami kedamaian, apa tugasmu untuk memelihara imanmu?

*inspirasi dari Lukas 15:1-3. 11-32…..)


Tinggalkan Balasan

19 + fifteen =