HIDUP SIMPEL, TAFSIRAN HEBAT

Saya menyempatkan diri untuk merayakan Natal di suatu desa kecil yang indah. Di sana saya menjumpai orang-orang baik yang masih tulus merayakan imannya. Dalam ibadah Natal, mereka tampak khusuk melibatkan diri dalam perayaan yang mereka yakini sakral dan menghadirkan rahmat itu. Di tengah kesibukannya bertani dan beternak, waktu untuk Tuhan tetap mereka istimewakan.

Seusai ibadah Natal, saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk ngobrol santai dengan orang-orang di sana.  Hal-hal detil terkait kehidupan di desa adalah bahan obrolan yang tidak bisa tuntas dibahas hanya dalam sehari. Dirasakan betapa hidup memang rumit, kompleks, tapi cukup menyenangkan untuk dibahas berjam-jam. Memperbincangkan kehidupan itu selalu menarik dan bisa membuat kita mudah bertahan dalam rasa kagum pada beragam kejutan yang datang menghampiri, seperti juga mudah membuat kita bisa putus asa dan kecewa berkali-kali.

Kami membahas hal-hal yang serba menyebalkan dari politik lokal, memperbincangkan cuaca yang makin tak menentu, mempersoalkan fenomena moral, sosial, budaya generasi sekarang, dan sebagainya. Bahkan beberapa dari antara kami dengan mudah menyimpulkan: hidup ini terasa rumit, juga hebat! Saban hari kita berjuang untuk survive dengan kerja serabutan-minim pendapatan, tapi sering kali kita dihibur oleh suasana kekeluargaan di desa yang menentramkan batin.

Kadang kita bisa tertawa lepas bahkan tatkala persediaan beras di dapur tidak mencukupi kebutuhan perut untuk bertahan hidup selama 2 minggu. Sering pula dialami saat-saat di mana kita suka mengeluh dan menuntut banyak hal justru di saat kita masih diberi kesempatan untuk mengolah tanah warisan, memaksimalkan bahan-bahan lokal untuk diolah, dan lainnya. Hidup ini rumit nan hebat, bukan?

Sesekali saya menimpali, tapi kadang mengamini juga betapa kompleksnya kehidupan ini. Tapi, dalam benak saya selalu terngiang ungkapan Pramoedya Ananta Toer, “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Tidak untuk menyederhanakan situasi, tapi setidaknya ungkapan Pram ini bisa sesekali dijadikan semacam alarm, pengingat agar kita tidak melulu memperumit kehidupan beserta tafsiran-tafsirannya yang lebay itu.

Sebab kehabisan waktu hanya dengan menafsir keadaan bisa lebih mengecewakan dari sekadar mengerjakan sesuatu yang tidak ada faedahnya. Padahal sebenarnya kita masih punya cukup ruang dan waktu untuk segera terlibat dalam praksis dan mengoptimalkan potensi kreatif kita. Membikin hidup jadi rumit memang bermula dari kepala. Dan bisa jadi kerumitan merupakan produk dari tafsiran, yang selalu bercokol di kepala setiap insan.

Tapi kita pun perlu tahu bahwa setiap orang pasti punya cara untuk memaknai hidup. Mungkin tafsir dimanfaatkan sebagai salah satu perangkat pembentuk makna yang dipilih. Dari sana makna diperoleh, lalu direnungkan sedemikian sehingga menumbuhkan antusiasme, sikap percaya diri, kegigihan, dan keberanian untuk terus berkarya. Sepanjang menyangkut kompleksitas kehidupan, ruang tafsir selalu terbuka selebar-lebarnya. Siapa saja bisa menafsir, memperbincangkan, berdiskusi bahkan beradu opini tentang hidup yang serba biasa ini.

Sebab jika makna ditemukan dalam tafsiran, apakah kebahagian bisa segera menemaninya dalam praksis hidup harian? Perbincangan pagi itu membantu saya memahami “mengapa orang-orang di desa ini masih antusias beribadah, bertani, dan beternak kendati masih banyak hal yang mereka pertanyakan?


Tinggalkan Balasan

sixteen + eleven =