Film “Kuasa Gelap” itu makin ke sini makin menyihir khalayak. Usai menyaksikannya beberapa waktu lalu, saya menduga-duga setelah itu akan banyak orang berusaha mengingat bahkan mempertanyakan masa lalunya. Memang di film ini masa lalu adalah salah satu bagian yang mestinya tidak boleh luput dari sorotan. Pemilik masa lalu itu adalah Romo Thomas, seorang Pastor muda yang berperan sangat penting dalam seluruh alur kisah film. Dialah yang kemudian menutup kisah tragis kerasukan setan ini dengan senyuman pertanda kuasa gelap bisa diatasi.
Tentang masa lalu, pasti ada sekian banyak nasihat, ajakan dan bahkan perintah perihal bagaimana memelihara dan mengolahnya. Dalam film, kita mendapat arahan untuk “berdamai dengan masa lalu” itu, kendati sering kali didapati beragam kesulitan untuk mengatasinya. Di mana-mana tangisan dan jeritan ketidakmampuan berdamai dengannya masih mudah dijumpai. Sekian banyak orang bahkan berusaha menerima masa lalunya hanya sebagai peninggalan yang penuh mitos, tapi ada pula yang terus berada dalam ketegangan karena memaknainya sebagai cambuk yang menyiksa lantas menghalanginya untuk berlangkah ke depan. Adakah yang memaknai masa lalunya sebagai “kuasa terang”, lantas ia tak perlu diratapi, apalagi ditakuti?
Jika berdamai dengan masa lalu diterima sebagai jalan mengatasi kegelapan, maka kita diajak untuk sesekali membongkar memori, mengingat, sekaligus menafsir masa lalu itu. Kita membiarkan kisah-kisah yang telah usai itu berbicara, lalu di hadapannya kita berusaha menatap dengan positif; senyuman damai dan (sekuat-kuatnya) doa. Meskipun sebenarnya kita kerap sadar betapa itu membosankan dan hanya menghabiskan waktu, toh kita tak akan bisa berjalan mundur untuk menjumpainya kembali, selain dengan modal ingatan, imajinasi, khayalan dan iman.
Di masa remaja dulu, saya dan Anda suka bermain-main dengan kata nostalgia, sekadar mengungkapkan rasa rindu akan sesuatu dan atau seseorang. Tapi bila kita sekarang diajak untuk “berdamai dengan yang lalu”, ternyata nostalgia bukanlah sekadar rindu pada masa silam. Seperti Romo Thomas, dengan memorinya akan kenangan-kenangan yang lalu, ia justru mengharapkan masa kininya selalu baik dan masa depannya bisa ia raih dengan damai. Ia sedang berikhtiar agar keputusannya kini dan nanti itu baik adanya. Di dalam batinnya berkecamuk banyak hal tentang pilihan, komitmen, emosi, rahmat, dll.
Barangkali memang ada saatnya Pastor muda itu dan juga kita ingin sekali protes terhadap masa lalu yang kelam, mengutuk masa kini dan pesimistis terhadap masa depan yang tidak tentu. Tapi apalah artinya ketika kita malah sering berbenturan dengan keterbatasan diri kita sendiri, alih-alih ingin menyelami kehidupan secara lengkap dan tuntas?
Bersama “Kuasa Gelap”, kita diajak berdamai dengan diri agar tidak kewalahan menemukan terang. Berdamai memang sering kali disamakan begitu saja dengan ikhtiar melupakan, padahal sesungguhnya berbeda. Kita tak bisa lupa sama sekali, sebagaimana tak bisa ingat secara lengkap masa lalu itu, dan tak bisa juga hidup tanpa berharap dalam hening dan doa untuk masa depan yang damai. Yang menguasai kita bisa jadi adalah keragu-raguan akut kita sendiri bersamaan dengan keengganan untuk mengupayakan kedamaian. Damai terhalang karena diri kita sendiri yang selalu punya alasan untuk tidak beriman, yang punya segudang cara merasionalisasikan keegoisan-menyelubungkan kelemahan insani dan kerap merasa punya daya manusiawi yang mumpuni sehingga seolah-olah imun terhadap hal buruk, termasuk “hal-hal gelap” yang menghantui.
