Menunda Kepuasan

Si anak kelaparan di saat ibunya sedang menawarkan jualan di tepi jalan, di suatu kota kecil. Buah hatinya itu setengah merengek. Sesekali ia menarik baju ibunya. Kendati di tangannya masih tersisa 2 kantong tahu jualan, ia tidak begitu saja membiarkannya untuk segera dijadikan pemuas lapar anaknya (pun ia sendiri yang sejak pagi perutnya belum terisi). Alih-alih mendiamkan, ia justru membiarkan si anak menangis. Setelah jualannya habis terjual, ia lekas mengajak anaknya ke sebuah warung. Kepada anaknya ia menyajikan nasi, sayur, ayam goreng, es jeruk, air mineral. Keduanya makan dengan lahap. Si anak kenyang, kembali ceria dan bergegas pulang dengan senang. Dompet ibunya terisi, lumayan bisa jadi jaminan untuk bertahan hidup kendati cuma sehari .”

******

Menunda kepuasan. Ini keutamaan yang tidak begitu populer. Yang populer justru yang sebaliknya; menuruti keinginan-bukan kebutuhan. Memenuhi yang sesaat demi kenikmatan, lalu mengabaikan detail-detail penting yang memang lama dan butuh proses. Si ibu lega, anaknya pun bahagia. Dan kita, kiranya berharap puas, lega dan bahagia sekalian. Pada kita tertinggal tugas wajib: “menunda kepuasan” di saat masih ada kesempatan untuk memenuhi kebutuhan yang mendatangkan kebahagiaan. Jangan seolah-seolah butuh, padahal sebenarnya hal itu masih bercokol pada taraf ingin. Tak elok bila kau pura-pura butuh padahal kau masih bisa hidup dengan apa adanya.


Tinggalkan Balasan

2 + 3 =