Anda Mesti Punya “Affective Space”

Mendiang Dr. Herry Priyono SJ memetakan dengan ringkas tiga unsur pokok dalam pedagogi Ignasian yang ia sebut “The Trinitarian Elements:” tubuh sebagai daya melaksanakan, emosi sebagai daya menghasrati, dan intelek sebagai daya menganalisis dan memahami. Ketiganya dididik secara tidak terpilah-pilah untuk membentuk watak.”

******

Affective space: satu frasa yang terucap dari Romo Herry, pada suatu malam, di satu kelas pascasarjana. Saya ingat momen itu. Juga begitu kuat terekam dalam memori saya hingga kini, bagaimana Pastor Jesuit ini menerangkan artinya dengan super atraktif. Tak mudah tentunya memahami maknanya terutama jika mengacu pada arti literalnya. Ruang afektif, kah? Atau apa, Romo? Memang, memahami sesuatu selalu tidak gampang jika tanpa ‘hasrat akan kedalaman’. Sebab satu frase abstrak ini tidak mudah terangkum dalam definisi. Definisi itu sendiri selalu berarti membatasi, membuat satu hal jadi simpel lantas mudah dimengerti.

So, dengan berusaha memaksimalkan ‘hasrat’ itu, saya mencoba menangkap (mungkin tidak begitu jitu) arti affective space. Jadi, begini kawan: kita punya emosi (=afeksi) sebagai daya menghasrati. Kamu mesti memberinya ruang untuk ia berkarya optimal. Di kamarmu, di setiap sudut, bahkan kamu bisa menyulapnya jadi “affective space”. Pilih salah satu sudut itu, di sana kamu menghasrati sesuatu (apa pun itu) untuk kemudian kamu bawa dalam hening berikut ditafsir, digali maknanya, lalu perlahan mencurahkannya dalam tulisan….bla-bla-bla, dst, maka jadilah satu tulisan, hari pertama. Selebihnya adalah konsistensi.

Gaes, memang selalu ada ruang untuk menghasrati. Tapi tak cukup bila tanpa emosi/afeksi yang menjadi daya untuk bergairah mendekati. Afeksi itu pun mesti dididik demi suatu visi membentuk karakter. Kita bisa mengusahakannya; temukan affective space-mu, di sana kamu akan tenang, hening dan renung: nang-ning-nung!

 

 


Tinggalkan Balasan

two × 2 =