Romo Frans Magnis Suseno tidak punya pesan khusus untuk Ganjar Pranowo. “Tuhan memberkati, silakan jalan terus,” begitu ungkapan sederhana yang terucap dari mulut Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini. Sekurang-kurangnya yang tampak dalam konferensi pers singkat itu, pernyataan Magnis begitu normatif, juga bisa disebut netral. Kendati tidak masalah juga jika para pengagum Ganjar menafsirnya sebagai semacam bentuk dukungan terhadap pasangan pilpres kecintaan mereka. Barangkali setelahnya Anis dan Prabowo menyusul, sekadar melakukan lawatan kecil juga ke sana. Pendukung keduanya pun punya hak untuk mengklaim bahwa Magnis “mendukung” mereka dalam panggung kontestasi pilpres nanti. Artinya, dalam versi masing-masing pendukung ketiga capres ini, Magnis “mendukung”. Memang, Magnis memesona.
Magnis memang selalu memesona. Ia seorang tokoh agama, rohaniwan Katolik, seorang cendikiawan, professor filsafat. Tidak sia-sia tentunya kalau Ganjar (dan mungkin nanti Anis dan Prabowo) mau sediakan waktu melawat ke tempat Magnis mengabdi, kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Di kampus yang dikenal dengan iklim akademik-filosofis ini, Magnis jadi salah satu pengasah nurani, pencerah budi dan penggerak aksi bagi segenap mahasiswanya, pun siapa saja yang mau datang menimba kedalaman. Di tempat ini, ia merenung, menulis, mengajar, merenung lagi, dan seterusnya. Kegelisahan intelektualnya ia olah sedemikian sehingga melahirkan beragam gagasan jernih dan mendalam. Ia merenungkan banyak segi kehidupan; iman dan akal, juga menyasar ke (etika) politik, ranah yang begitu sexi bagi khyalayak lantas selalu jadi trending topik.
Kedatangan Ganjar diterima dengan ramah oleh Prof. Magnis. Di ujung perjumpaan, Ganjar memperlihatkan dua buku, karya Rm. Magnis; “Iman dalam Tantangan” dan “Etika Politik”. Barangkali Ganjar (dan semua anak bangsa) akan dan sedang diberi edukasi tentang dua hal: berusahalah agar Tuhan dan iman tidak untuk dijual-belikan demi kebutuhan pilpres. Berusahalah pula untuk menjunjung tinggi etika, kedepankan politik yang etis di tengah kompetitifnya pemilu. Mudah-mudahan pesta demokrasi ini damai lahir dan batin, dalam iman dan etika.
PesonaMagnis tampak dari ungkapannya, “Tuhan memberkati, silakan jalan terus.” Dua buku yang diberikannya itu bisa dia rangkum dalam kalimat sederhana ini. Itulah pesona Magnis! Bahwa imanmu menguatkanmu dan jalan yang kau tempuh adalah jalan yang etis, bukan pragmatis.
So, Ganjar, Anis dan Prabowo, tunjukkan pesonamu!
(tulisan ini dibuat sesaat setelah Ganjar mendatangi Prof. Magnis di kampus STF Driyarkara, Jakarta sebelum kontestasi pilpres 2024 dimulai)
