Kebebasan tidak ditemukan dalam benda-benda
Jumat, 12 April 2024 dini hari saya merampungkan persiapan menuju Pringsewu, Lampung. Pagi-pagi itu, beberapa helai pakaian sudah tertata rapi di dalam koper. Di sana mereka seperti berdesak-desakan dengan lima hingga enam buku yang saya bawa serta. Jika buku dan pakaian itu punya kebebasan, saya yakin di sana akan tercipta suasana chaos yang tak bisa dibendung. Masing-masing benda-benda ini menuntut kebebasan, keleluasaan. Cara saya memanfaatkan ruang koper itu memang jauh dari kerapian. Saya menata sebebas-bebasnya hingga koper benar-benar sudah padat dan terisi semuanya.
usai koper dipastikan aman, saya lalu mengambil ransel kecil andalan saya. Satu-satunya barang yang mengisi ransel itu adalah laptop. Pikirku, buku dan pakaian di koper sepertinya beda nasib dengan laptop ini. Ia bisa bebas menguasai seluruh ruang ransel tanpa ada yang mengekang kebebasannya. Chaos tidak tercipta di sana. Tapi tak ada gunanya juga membuat pembedaan nasib pada benda-benda. Toh pada benda tak ada kebebasan. Saya urungkan niat untuk itu, lalu dengan ruang ransel yang masih tersisa itu, saya menambahkannya dengan perlengkapan mandi.
Baru selangkah beranjak menuju pintu keluar, saya memandang ke rak buku. Niat dan kebebasan saya-lah yang kemudian memutuskan untuk mengisi ruang kosong dalam ransel itu dengan buku “Lari dari Kebebasan”, sebuah terjemahan dari Escape from Freedom karya Erich Fromm. Sebuah buku lawas yang sudah pernah saya baca, tapi entah apakah isinya masih membekas di kepala atau tidak.
Saya memasukkannya ke ransel, dan di sela-sela waktu dalam perjalanan ia lalu saya jadikan teman untuk diajak bercakap-cakap. Buku kecil ini bisa habis dibaca dalam beberapa jam. Inspirasi serta dinamika logika dan gerak rasa yang diciptakan penulis pun bisa dengan mudah dicerna dan dapat dengan sengaja diambil inspirasinya.
Beberapa suasana kala itu mengundang rasa penasaran saya. Hiruk-pikuk orang banyak di bandara, gerak dan laku yang variatif dari manusia lain menggugah nalar dan imajinasi saya untuk merenungkan kebebasan dan berbicara tentangnya. Saya pun merasa begitu bebas memandang berikut membuat penilaian atas mereka. Ditambah dengan rasa ingin tahu perihal hakikat kebebasan manusia, suatu karakter bawaan yang sama sekali tidak dimiliki benda-benda atau ciptaan lain. Selain kebebasan, tentu saja akal budi juga merupakan pembeda kita dengan ciptaan lain.
Kebebasan: kepunyaan manusia
Erich Fromm (1900-1980), psikolog kenamaan Jerman, jadi teman seperjalanan saya kali ini. Pikirannya menginspirasi saya dan Anda tatkala ia menegaskan: “berkat kebebasan, manusia bisa menyemai dan memiliki kekuatan, juga integritas……lalu bisa mengasah akal budi dan menciptakan relasi solidaritas dengan sesamanya.” Fromm meninggalkan jejak pemaknaan positif terhadap kebebasan yang baginya bisa membuat manusia menjadi otentik dan kuat. Dengan kebebasannya, manusia akan mantap mengolah budi dan menciptakan relasi yang damai dengan yang lain. Integritas akhirnya lahir dari kualifikasi diri yang mampu mengoptimalkan kebebasan dalam koridornya yang tepat.
Tapi Fromm tidak begitu saja menghindar dari ekses yang timbul secara spontan dari kebebasan: “tetapi di sisi lain, tepat seketika pula, kebebasan individu bisa meledakkan keterasingan dan ketidaknyamanan..” Bahwa sering kali ledakan yang bermuatan negatif juga lahir dari kebebasan individu. Keterasingan dan ketidaknyamanan justru kerap tercipta dari kebebasan itu. Di sana ada pihak yang diasingkan, yang terpaksa tinggal dalam kegelisahan, takut dan cemas.
Dari kebebasan juga mengalir keragu-raguan dengan pelbagai efeknya: “keraguan terhadap peran diri dan orang lain dalam semesta, makna hidup, yang ujungnya meruahkan perasaan kacau ketidakberdayaan dan ketidakbermaknaan diri.” Manusia menanggung sendiri pelbagai konsekuensi dari kebebasannya yang salah satunya adalah ragu-ragu, bahkan terhadap dirinya sendiri. Keraguan terhadap peran diri itu kemudian menjadi awal menuju sikap apatis terhadap makna hidup. Di situlah kelesuan dan krisis terhadap hidup mulai dan terus mengintai manusia. Sebagian mengatakan hidup ini absurd dan pantas ditangisi.
Menjadi bebas sebagai manusia
Sebelum berangkat ke Lampung saya sudah ditawari banyak pilihan: bawa 1 atau 2 tas? Bawa 7 atau 8 buku bacaan? Berangkat pukul 08.00 atau sebaiknya 30 menit lebih awal? Kebebasan saya terhimpit di antara atau dan atau. Jika hanya sebatas dilema biasa seperti ini, saya yakin problem tentang manusia tidak begitu rumit. Tapi pada kenyataannya, manusia sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Eksistensi manusia menjadi nyata dalam proses yang menyertakan subjek dengan kebebasannya. Ia otentik dan kuat jika terlatih mengoptimalkan kebebasannya untuk mengeksekusi tindakan pada saat-saat genting di hadapan pilihan-pilihan rumit.
Maka intuisi Kierkegaard (1813-1855), seorang eksistensialis kebangsaan Denmark patut diperbincangkan. Ia menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan yang dengan kebebasannya itu ia bertindak berdasarkan nilai moral atau etika. Pada tahap ke-2 dalam hirarki fase tentang hakikat manusia, ia memperkenalkan “manusia etis”, manusia yang hidup dengan pilihan-pilihan tertentu yang dilandaskan pada pertimbangan baik-buruk. Tugas selanjutnya adalah tuntutan pertanggungjawaban atas pilihan itu yang harusnya tumbuh dari pertimbangan rasional.
Manusia etis akan fokus pada apa yang baik dan buruk sebagai pertimbangan penting dari setiap pilihan tindakan yang diputuskannya atas nama kebebasan. Dalam batinnya, ia berefleksi, meneliti dan mengamati dinamika emosinya. Bahkan ketika ia memutuskan sesuatu yang salah, tuntutan yang paling logis adalah pertanggungjawaban. Di situ ia tampil sebagai “yang etis”.
Fromm, Kiegergaard dan saya hidup dalam kebebasan: merdeka berpikir dan mengevaluasi. Saya dan kedua tokoh ini adalah makhluk bebas, manusia merdeka. Dilekatkan pula pada kebebasan itu suatu tugas penting bagi kami, yakni pertanggungjawaban yang etis. Bahwa taktala kami memutuskan untuk bertindak, di saat yang sama kami juga mesti siap bertarung dengan risiko, konsekuensi dan akibat-akibat. Butuh kelapangan hati dan keluasan akal budi untuk bebas, bertanggungjawab dan bertindak etis.
Di akhir perbincangan dengan Erich dan Kiegergaard itu saya teringat dengan satu buku yang ternyata lupa saya simpan dalam koper, yakni Kitab Suci. Buku penting ini dilupakan di saat saya lebih mementingkan enam buku lainnya. Mungkin pertanda saya mulai mengabaikan Sabda Ilahi dan terlalu mengandalkan kapasitas manusiawi.
Bisa jadi pesan untuk Anda: gunakan kebebasanmu secara baik dan bertanggungjawab, pertimbangkan dengan bijaksana jika hendak bertutur dan bertindak, termasuk ketika Anda harus memilih keputusan untuk mendoakan orang atau mewartakan dosanya. Saya toh yakin, di dalam Kitab Suci kita bisa menemukan yang terbaik untuk diwartakan. Mudah-mudahan Kitab Suci tidak terlupakan dan kita tidak kewalahan mengatur kebebasan.
