Di suatu tempat yang saya anggap sunyi, saya merayakan Hari Buruh Nasional 1 Mei 2024, dua Minggu yang lalu. Saya berangkat pagi usai sarapan. Ini pilihan pribadi yang seketika muncul di benak. Diyakinkan pula oleh warna merah pada kalender yang mendukung niat saya untuk terlibat merayakan hari buruh itu. Warna merah, selain simbol perjuangan, kemartiran, dll juga merupakan penanda rehat dari kerjaan, sekadar beralih sejenak dari rutinitas. Orang banyak memberi judul liburan. Ya, liburan sebagai hak segala kaum memang tampak sebagai hiburan yang menyenangkan, juga menenangkan. Saya merayakannya dengan bepergian.
Saya temukan di dalam perjalanan beberapa kelompok masa yang berhimpun merayakan sesuatu di dalam tenda di sekitaran rumah, di taman-taman dan beberapa ditemukan di halaman sekolah. Mereka sedang terlibat merayakan momen. Di dalam perayaan itu suka dan duka melebur menjadi satu. Harus diakui memang perayaan dan atau pesta selalu mengasyikkan, apalagi jika dilengkapi dengan gegap gempita musik, tarian dan nyanyian. Dalam sekejap hidup tampak simpel dan menyenangkan jika hanya dimaknai sebagai pesta atau selebrasi dalam keriuhan sebagai kerumunan.
Sementara di beranda medsos, di sana sini mudah ditemukan berita seputar aksi demonstrasi kaum buruh di jalanan. Itu cara mereka merayakan, kendati tidak identik dengan pesta atau selebrasi. Perayaan tahunan setiap 1 Mei, saya kira tidak mudah untuk dinamai pesta dan atau selebrasi mengasyikkan untuk para pekerja yang nasibnya terhimpit oleh keadaan pahit. Mereka akan tetap berteriak menyuarakan keadilan, memohon kepada penguasa untuk memperhatikan nasib mereka.
Di negara yang kesenjangan ekonominya cukup besar ini, para buruh adalah pemilik nasib yang kurang beruntung. Mereka terus berharap menerima upah melebihi rasa lelah, kendati barangkali mereka sendiri tahu jika ini hanya sebatas mimpi yang tak mudah tercapai. Mereka selalu jauh dari kepastian soal upah sebagaimana nasib DPR dan para penguasa lainnya yang tidak pernah risau dengan isi kantong plus isi perut. Pesta atau selebrasi hanya sekadar seremonial belaka, bagi mereka tidak hanya tidak berguna tapi juga amat tidak bermakna.
Di dalam kegelisahan batin seperti itu, saya membayangkan nasib agama. Di samping ada pesimisme yang sering kali tak karuan mengusik, saya mencoba berharap akan praktik-praktik keagamaan yang tidak melulu seremonial saja, tapi (mudah-mudahan) lebih tampil aktif di dalam gerakan-gerakan transformatif, memperlihatkan secara konkret keberpihakan pada kaum yang ringkih, rapuh, lemah dan berkekurangan. Betapa seringnya benak dan batin saya dihinggapi kegelisahan, mungkin juga kekecewaan tatkala menyaksikan pesta, seremoni, selebrasi bertemakan keagamaan yang mewah dengan budget yang tentu saja tidak sedikit.
Harus disadari bahwa yang fana memang mengasyikkan. Pesta, festival, selebrasi yang menjadi habitus di dalam praktik keagamaan tampak menyenangkan, tapi belum tentu menenangkan batin umat yang sedang terhimpit keadaan pahit karena problem-problem. Sebab pesta atau aksi-aksi seremonial itu tidak menawarkan keabadian. Usai perayaan, mereka akan kembali berjuang untuk survive, sembari membayangkan (semoga segera lupa) isi kantong mereka lebih banyak dipakai hanya untuk menyukseskan aksi-aksi seremonial yang mungkin berguna, tapi tidak bermakna.
