JOKO PINURBO DAN MIMPIKU MEMELUK CHELSEA ISLAN

Saya ingat seorang kawan yang selalu memperlihatkan kepada saya beberapa karya Joko Pinurbo, penyair ternama kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Kawan saya itu memang dikenal sebagai peminat sastra. Ia sering meminjamkan kepada saya beberapa buku sastra miliknya. Kadang-kadang kami saling bertukaran buku secara diam-diam, tanpa perjanjian. Berkali-kali saya didapatinya sedang mengambil begitu saja beberapa buku favoritnya. Ia juga berbalik melakukan tindakan serupa.

Untuk hal-hal semacam ini ia, pun juga saya tentu tak pernah geram. Kalau pun sempat ingin marah, kami bisa sedemikian cepat mengalihkannya dengan melakukan pembenaran. Kami memang suka membenarkan diri untuk hal-hal konyol yang tidak merugikan orang lain selain diri kami sendiri.

Ingatan saya hari ini langsung tertuju ke teman yang satu ini setelah di beberapa linimasa medsos tersiar kabar meninggalnya penyair Joko Pinurbo alias Jokpin. Dulu sebelum berangkat tugas ke suatu tempat, ia menitipkan kepada saya tiga lembar rupiah untuk dibelikan beberapa buku kumpulan puisi Jokpin yang lainnya. Saya berhasil menambah nominal uangnya yang tidak seberapa itu hingga akhirnya bisa sekaligus mendapatkan tiga buku.

Satu dari antara tiga karya Jokpin itu adalah “Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung”, yang di dalamnya terhimpun 125 puisinya. Puluhan puisi dalam buku ini sudah pernah kami deklamasikan di taman Ismail Marzuki (TIM), salah satu tempat nongkrong favorit kala itu.

Selain di TIM, juga di beberapa taman kota, saya dan kawan ini beserta beberapa teman lainnya sering menghabiskan waktu untuk saling berbagi diksi, bercerita tentang kisah-kisah fiktif bercampur bualan-bualan tak berfaedah, menganalisa info mutakhir seputar sepak bola, menimbang-nimbang agenda masa depan, dll. Dan lebih sering juga berkhayal tentang banyak hal yang sebenarnya absurd untuk kehidupan para selibat. Saking absurdnya, seorang kawan bahkan pernah berniat untuk menikahi Chelsea Islan.

Ia sempat merancang dialog imajiner dengan menyertakan Chelsea sebagai tokoh utamanya: “pagi-pagi buta di sebuah gunung di Jawa Timur, Chelsea memanggilnya. Ia pun menghampiri lalu dengan sigap memeluk Chelsea yang tampak sedang kedinginan. Chelsea yang kedinginan itu ingin sekali mencari kehangatan pelukannya. Maka Chelsea dipeluknya erat-erat.”  Kisah fiktif nan absurd ini meyakinkan ia dalam imajinasinya untuk segera menikahi Chelsea. Tentu mustahil!

Tapi menarik. Di sela-sela obrolan kami itu, selalu saja ada saat di mana tiba-tiba kami memikirkan nasib agama; masihkah didekati oleh generasi sekarang dan yang akan datang? Di kota metropolitan, tempat kami menghabiskan masa muda ini, para pemeluk agama memang kelihatan masih banyak. Mudah sekali ditemukan setiap Jumat dan Minggu para pemeluk agama itu beramai-ramai memadati rumah ibadahnya masing-masing.

Apakah memang para pemeluk agama ini tidak main-main dalam praktik imannya, dan tidak mudah mengabaikan budaya dan kemanusiaan? Teman saya berceloteh, “bro, seperti sindirian Jokpin, sungguhkah mereka dan juga kita ini pemeluk agama? Sungguhkah kita memeluknya? Atau jangan-jangan ia makin kedinginan dan kesepian…”

Saya lalu seketika membayangkan agama layaknya Chelsea Islan. Ia kedinginan dan saya lekas memeluknya erat-erat. Bahkan seperti imajinasi kawan saya tadi, kalau makin kedinginan dan kesepian, pilihannya hanya satu yakni menikahinya. Tentu saja agama bukanlah Chelsea. Pun Chelsea bukanlah agama. Tapi, urusan peluk-memeluk adalah suatu tindakan yang punya makna. Motifnya adalah cinta kasih, bukan yang lain.

Demikian Jokpin dalam puisinya memperlihatkan bahwa justru banyak orang yang malah menghina, membakar, merusak dan menjual agama. Mereka tidak sungguh-sungguh memeluknya. Jokpin prihatin dan selebihnya ia menegur saya dan Anda yang praktik berimannya tidak lebih baik dari si Teguh seorang tukang bakso yang sangat pandai memeluk agama.

Pelukan kita mungkin tidak ikhlas: iman yang belum teguh, praktik iman yang hidup hanya dalam gebyar seremoni, minim keberpihakan pada yang lemah, miskin dan tersingkirkan. Untuk itu kiranya Jokpin memberi pesan; Tuhan sudah bersabda untuk pergi dan segera wartakan pelukan-Nya kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Hari ini, 27 April 2024 Jokpin, pemilik puisi “Pemeluk Agama” (2015) itu wafat. Di bumi, ia telah memeluk segalanya dengan erat-erat dan penuh ikhlas: Tuhannya, agamanya, keluarganya, koleganya, semua orang yang menikmati karya-karyanya.

Saya menyempatkan diri untuk memohon Tuhan menerima Jokpin di sisi-Nya, sembari membayangkan Jokpin dan Tuhan saling memeluk. Jokpin pasti bahagia di sana. Sedang di sini, saya dan kawan saya tadi masih saja tersesat dalam imajinasi dan mimpi untuk memeluk lalu menikahi Chelsea Islan.

Rest in Love, mas Joko Pinurbo……*)


Tinggalkan Balasan

15 − two =