SISI LAIN DARI SEPAK BOLA

Di suatu kota, usai olahraga bersama teman-teman satu hobby, kami berbincang perihal sisi lain dari sepak bola. Tanpa disengaja obrolan kami bermuara pada satu konsensus tentang karakter pemain. Kata perfeksionis dianggap paling representatif untuk membahasakan banyaknya karakter di antara beberapa pilihan lainnya. Kawan saya bilang,”Rasanya berat jadi orang yang perfeksionis. Bukan saja karena menginginkan performa yang perfect, tapi sering kali karena kita tidak pernah mau kalah, bahkan ketika tampil buruk di lapangan.” Terhadap ungkapannya ini, kami pun mengangguk-angguk tanda sepakat.

Memang seperti sekolah, lapangan juga merupakan medan pembelajaran karakter. Ditemukan di sana tipe manusia yang selain perfeksionis, juga temperamen, egois, ofensif, mudah menyerah, kurang serius, dan masih banyak lagi. Saya mendapati diri sendiri, juga beberapa rekan seminat ini begitu perfeksionis, selalu ambisius pengen menang terus dan tak pernah mau disalahkan jika harus kalah, setipis apa pun score-nya. Di beberapa pertandingan di kancah dunia pun kerap diperlihatkan beberapa pemain yang demikian. Selalu mudah mencari kambing hitam dan lihai menyelubungkan kekeliruannya sendiri.

Perfeksionis dalam makna yang cenderung negatif memang tidak menyenangkan. Serasa ingin melaju melebihi batas kecepatan di jalan sepi, di mana banyak kawan tak sudi menemani. Karakter ini mungkin tidak begitu diminati, tapi justru sering dimiliki oleh setiap pribadi. Dua dari tujuh teman saya sempat curhat, tim mereka sering kali menemui jalan buntu ketika hendak berlaga di beberapa kompetisi bola. Mentalitas pemain jadi kendala, dan perfeksionis jadi satu dari sekain karakter penghalang persahabatan mereka.

Dua teman saya itu memang sangat introspektif. Mereka sadar diri sebagai manusia perfeksionis; sering memarahi dengan membentak rekan setim, suka memaksa yang lain untuk tampil dengan performa yang apik-sempurna, kendati mereka sendiri sering keliru, suka meletakkan pada pundak rekannya kekalahan dan kegagalan yang semestinya ditanggung secara kolektif. Intinya mereka suka memaksa untuk menang, cerdik mencari cela kesalahan pada diri orang lain.

So, nanti, esok atau kapan saja di lapangan, ketika menang karena faktor keberuntungan, saya akan berusaha membatin: “sepertinya saya sedang menikmati rasa puas pada kegelapan. Saya menang di saat rekan setim berwajah murung karena bermain di bawah pressure; takut dibentak dan dimarahi (oleh diri saya dan {mungkin} Anda)”. Dalam sepak bola yang kompetitif, menang adalah capaian tertinggi, tapi detil-detil menuju capaian itu tidak kalah penting. Kerja keras, fighting spirit, visi, etos kerja dan lainnya adalah mutlak perlu dan pasti menentukan kemenangan. Lalu apa yang dimaksudkan Red Sanders ketika mengatakan, “Winning isn’t everything, it’s the only thing,” menang bukan segala-galanya, itu satu-satunya? wkwkwk

Selamat bertanding, di sana anda memutuskan sendiri untuk menjadi siapa dan apa!


Tinggalkan Balasan

four × 4 =