Menerka Isi Doa Politisi

Saya sedang membayangkan isi doa seorang politisi: “Tuhan, lindungilah aku dalam kontestasi pileg tahun ini. Buatlah hati ini sabar dan tegar. Dan terutama, bila pada akhirnya aku kalah, hendaknya Engkau tetap bersamaku agar aku tidak menangis, tidak putus asa, tidak menyalahkan tim sukses, tidak menaruh dendam terhadap lawan-lawanku…Amin.

Lalu, imajinasiku berlanjut: sang politisi ini ternyata memang kalah selisih sekian persen suara dari pemenang. Di hadapan kegagalannya, ia tampak tenang, tegar, air matanya tak sempat menetes. Ia merangkul kawannya-mengapresiasi lawannya. Tak lupa ia berucap, “Terima kasih Tuhan, aku tetap sehat…”

*******

Aktivitas serupa ternyata dilakukan isterinya. Ia jadi begitu rajin mendaraskan doa-doa dari sebuah buku kumpulan doa. Bukan hanya doa, buku itu juga berisi beberapa nasihat rohani. Banyak seruan bijak di sana. Beberapa kutipannya terbukti jadi favorit si ibu ini, lantas selalu dijadikan bahan sapaan paginya di beberapa whatsup group. Si ibu emang co cwit bet!

Memang begitu adanya. Kompetisi yang dirasakan sang suami seperti memaksa isterinya untuk berperan sebagai pendoa, juga sebagai orang bijak. Tiap kali ia tenteng bukunya, ia baca dalam hening, hingga ia jadikan teman perjalanan. Ia sebenarnya tidak tahu dan tidak sadar seberapa signifikan kebiasaan itu berpengaruh pada laku dan tutur hariannya di hadapan para sahabatnya.

Tapi, tiba pada suatu siang, seorang kawan arisannya berkomentar, “elu luar biasa perubahannya. Jadi ‘humble’, sabar, tidak mudah tersinggung, tidak mudah terbawa arus doyan gossip, jadi ‘takut Tuhan’….bla-bla-bla. Keren lu coy, bangga gua jadi teman lo….” Hal ini memang diamini juga oleh hampir semua teman arisannya. Bagi mereka, ada yang berubah dari isteri seorang politisi ini. Sungguh! So, doa itu mengubah diri si pendoa. Percaya ngga percaya, simak kisah di atas. (Maksa dot.com…wkwkwkwkw *)

Gaes, kini saya titipkan renungan: kita adalah pendosa, dan punya semacam hobby menghakimi pendosa yang lain. Tapi, entah orang lain, entah kita sendiri yang berdosa, kita punya satu anugerah berupa iman akan Allah Maharahim. Kita diberi-Nya ruang, juga kebebasan untuk berbenah. kita beri nama tobat. Dan betul, pada akhirnya pertobatan adalah akhir dari ilusi ketergantunganmu (hanya) pada dirimu saja, berhentinya pembenaran, serta rasionalisasi atas ketidaksanggupan mengatasi kelemahan insani. Berdoalah sebab doa itu mengubahmu!


Tinggalkan Balasan

15 + 7 =