STIGMATA DAN KEBERADAAN KITA DALAM GEREJA

Inspirasi:

Cahaya yang sekali lagi menyinari tebing La Verna malam ini, membuatnya bersinar, mengingatkan kita pada cahaya yang menyala di sini 800 tahun yang lalu dan hari ini cahaya itu menerobos kita lagi dan membuat kita bersinar sebagai orang yang beriman dan murid-murid Yesus…” (petikan homili Sdr. Massimo Fusarelli OFM pada 16 September 2023 di La Verna).

Pengalaman stigmata yang diterima Fransiskus di La Verna merupakan momen di mana ia diterangi oleh cahaya Tuhan. Keputusannya untuk berada di La Verna tentu lahir dari suatu kerinduan mendalam untuk menyambut dengan antusias terang kasih Tuhan agar bisa menerangi sisi gelap hidupnya. Fransiskus bergumul dengan situasi batinnya yang terus mencari kebenaran di hadapan Allah, ditambah lagi dengan pelbagai situasi dinamis perihal aturan hidup persaudaraan, serta kondisi tubuhnya kala itu. Situasi ini terpadu dengan kerinduannya untuk menyatu dengan Kristus yang tersalib, menerima dirinya diterangi oleh cahaya Allah dalam keenam sayap serafim.

Dengan penuh gairah Fransiskus sadar dan tahu bahwa di bukit La Verna ia akan menikmati kesunyian dan kegelapan. Di dalam kesunyian itulah ia bisa menjumpai Allah yang mahakasih, di tempat gelap itu juga ia akan menerima cahaya kasih Allah. Ia memeroleh kedamaian lantaran hatinya disinari cahaya ilahi itu. Keyakinan yang terdorong oleh iman yang kuat ini memampukan Fransiskus untuk peka mendengarkan suara Allah dan tekun meneliti batinnya sendiri. Ia kemudian menyatu dengan Allah dalam pengalaman akan salib Kristus.

Di sanalah ia mengamini bahwa “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…”(Gal. 2:20). Kristus hidup bagi dia. Segala kesenangan dunia bagi Fransiskus merupakan salib yang menyiksa karena ia membawa salib Kristus yang telah berakar dalam hatinya (2 Cel. 211). Fransiskus mengosongkan dirinya untuk hidup miskin dalam batin: “….dan dengan pengosongan diri sebulat-bulatnya ia lama bersemayam di dalam luka-luka Penyelamat” (1 Cel. 71).

Dalam spirit stigmata Bapa Fransiskus, kita yakin bahwa terang Kristus menerobos gelapnya hati kita dan serentak membuat kita bersinar atau bercahaya bagi sesama. Kini kita berefleksi perihal (1) identitas kita dan, (2) bagaimana semestinya kita hadir bagi Gereja. Kita menghidupi karisma kefransiskanan dalam spirit fraternitas dan minoritas, dan dengan semangat yang sama kita menerangi Gereja. Kita berkewajiban memperlihatkan kepada segenap ciptaan keindahan spiritualitas fransiskan yang di dalamnya terkandung keutamaan-keutamaan.

FRANSISKAN YANG BERCAHAYA

Dalam peristiwa stigmata, tubuh Fransiskus ibarat materi kanvas yang siap dilukis oleh Sang Tersalib yang menderita dalam wujud cahaya kemuliaan serafik. Fransiskus memberi dirinya sepenuh hati untuk disentuh oleh-Nya. Ia melucuti egonya, memberi dirinya untuk persatuan mistik dengan Kristus. Ia menyatu dengan misteri salib Kristus, bersemayam dalam luka-luka-Nya dan merasakan kepedihan dan kegembiraan Kristus. Di La Verna, Fransiskus mensyukuri karya Allah yang mengutus putra-Nya Yesus Kristus dalam kurban salib, darah dan wafat-Nya; oleh salib, darah dan wafat-Nya, Engkau mau menebus kami, orang tawanan” (AngTBul 23:3). Fransikus menyadari diri sebagai pendosa yang ditebus oleh kasih Allah. Luka-luka-Nya menebus, menyembuhkan dan membebaskannya.

Dengan demikian, sungguh tampak bahwa memang Fransiskus selalu digerakkan oleh kesadaran mendalam akan identitasnya sebagai pendosa yang dipanggil secara khusus untuk mengikuti Kristus. Bagi kita, kesadaran akan identitas ini membuat pertanyaan “siapakah aku ini” selalu relevan, bukan saja untuk pengembangan diri sendiri, tapi juga untuk kebaikan bersama di dalam komunitas dan Gereja. Maka defisit kesadaran terhadap identitas bisa memengaruhi komitmen hidup religius dalam hal relasi dengan Allah; sensibilitas rohani menurun, apatis terhadap aktivitas rohani dengan beragam alasan, sikap egois yang sulit dibendung dan sebagainya.

Pengalaman mistik-stigmata Fransiskus berdaya transformatif untuk dirinya. Pengalaman itu sangat menentukan komitmennya dalam pengejawantahan tindakan-tindakan transformatif, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi yang lain. Hal itu digerakkan oleh kesadarannya sebagai seorang yang disembuhkan; oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh (1 Pet. 2:24). Ia makin antusias – kendati dalam keterbatasan insaninya – untuk memberikan kesaksian akan Kristus yang tersalib, menyebarkan kebaikan kepada segenap ciptaan, menjadi cahaya yang terus bersinar hingga sekarang.

Kesadaran akan identitas kefransiskan itu juga dapat memotivasi diri kita untuk selalu rendah hati, sebagai aplikasi konkret kedinaan (dan persaudaraan). “Kita tidak pernah boleh ingin berada di atas orang lain, tetapi sebaliknya kita harus menjadi hamba dan bawahan semua orang karena Allah” (2 SurBerim, 47). Kerendahan hati bukanlah sikap perendahan dan sikap dina yang dibuat-buat. Ia lahir dari suatu perjumpaan intens dengan Allah yang merendah. Kerendahan hati itu adalah buah langsung roh Tuhan, jika disambut dengan patuh (bdk. AngTBul, 17). Kedalaman atau kedekatan (closeness) relasi dengan Allah sangat membentuk pribadi kita dan memengaruhi dengan sangat signifikan cara kita bertindak dalam relasi dengan yang lain. Dengan kerendahan hati, kita sedang memberi tempat bagi Allah dan tidak mudah mengabaikan kehadiran-Nya. Merasa mampu mengatasi diri dan situasi hanya dengan kapasitas kemanusiaan saja adalah salah satu bentuk penyangkalan terhadap identitas. Apatis terhadap-Nya juga berarti menyingkirkan segala nilai yang terkandung dalam identitas religius itu.

Dengan demikian, karisma kefransiskanan kita yang termaktub jelas dalam spirit fraternitas dan minoritas adalah “obor” yang dari diri sendiri kita nyalakan, lalu kepada yang lain kita bagikan cahayanya. Terhadap sesama Saudara di komunitas, cahaya itu kita jaga bersama, juga kepada setiap orang dan segenap ciptaan, kita terangi mereka dan sekaligus kita memastikan secara sungguh-sungguh cahayanya itu tak akan pernah padam.

Tidak mudah bagi kita untuk menghindar begitu saja dari beragam situasi yang kita anggap “gelap” dalam relasi dengan diri sendiri dan juga dengan sesama. Dan di hadapan beragam kelemahan personal dan komunal yang menyertai perjuangan membangun komunitas, hendaknya kita terus mengupayakan secara bersama-sama agar cahaya karisma kita terus menyala dalam sipirit persaudaraan kasih. Identitas kefransiskanan itu hendaknya terus kita hidupi dalam langkah-langkah formatif berupa komitmen menjaga kualitas kegiatan rohani komunitas, penguatan relasi kasih antarsaudara, rendah hati untuk saling mendengarkan, sikap saling terbuka, apresiatif terhadap karya saudara yang lain, saling mendukung dalam hal-hal yang positif-konstruktif, dan sebagainya.

CAHAYA ITU MENERANGI GEREJA

Kita memiliki tanggung jawab iman dan moral untuk memberikan kesaksian tentang belas kasih yang mengalir dari Dia yang Tersalib. Dengan karisma kefransiskanan yang ada, kita diutus untuk membawa lentera harapan, yakni Yesus Kristus melalui cara hidup. Melalui kesaksian hidup dan kata (KonsUm art. 89:1-2), kita mewartakan kemahakuasaan Allah atas kehidupan sesama. Cahaya harapan yang kita wartakan adalah suatu ekspresi keberimanan (dan spiritualitas), juga sebagai ungkapan solidaritas yang terealisasi dalam pelayanan konkret.

Bapa Fransiskus menginspirasi kita dalam beragam pilihan tindakan terhadap kaum lemah. Ia melayani orang-orang kusta dengan sungguh-sungguh demi Tuhan, dan ia membasuh segala yang busuk, bahkan membersihkan nanah dari luka-luka orang-orang kusta itu dengan penuh belas kasihan (1 Cel. 17;Was 1). Aksi konkret Fransiskus digerakkan oleh Allah yang dalam diri Yesus Putra-Nya, mengalami luka-luka penyaliban. Dan dalam pengalaman stigmatanya, Fransiskus menyatu dengan Kristus yang terluka itu. Dari sana ia terus digerakkan oleh Allah untuk menyembuhkan luka-luka sesama; melayani dan menjadi Saudara bagi kaum yang terpinggirkan.

Kepada semua orang yang kita jumpai, kita mesti berani dan antusias untuk mewartakan damai sejahtera dan kebaikan serta harapan akan dunia yang lebih baik (lih. KonsUm art. 85). Identitas kefransiskanan kita pada dirinya sendiri adalah kebaikan dan keutamaan-keutamaan yang unggul. Maka kita mesti selalu tergerak untuk membantu sesama, mangkomunikasikan kebaikan itu. Atau dalam ungkapan Paus Fransiskus, “kebaikan itu dari dirinya sendiri selalu mengkomunikasikan dirinya bagi yang lain” (Evangeli Gaudium art 9). Sehingga sangat tidak beralasan jika kita justru memilih nyaman dan menutup diri dalam lingkup personal atau eksklusif saja berhadapan dengan pelbagai situasi di mana banyak orang tersingkirkan, kesepian, difabel, miskin dan sebagainya. Kita hendaknya tidak “menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” serta “berambisi menjadi pusat dan berakhir dengan terperangkap dalam jerat obsesi dan prosedur (Evangeli Gaudium, 49).

Iman dan spiritualitas kita mesti berani bergerak keluar. Bersama dengan spirit sinodalitas Gereja yang digemakan oleh Paus Fransiskus, kita pun mesti ikut serta dalam ikhtiar “Gereja yang bergerak keluar”. Kita siap memberikan dan memberanikan diri untuk “berjalan bersama” kaum terpinggirkan di medan karya masing-masing: menjumpai mereka, mendengarkan dan melakukan discerment bersama. Di sana mesti ditanggalkan sikap prasangka dan stereotip serta mentalitas yang sarat klerikalisme. Diharapkan agar rendah hati dalam mendengarkan, bersikap inklusif dan berikhtiar memberi inspirasi dan harapan (lih. Vademecum for the Synodality Church: Communion, Participation, and Mission, Secretary General of the Synod of bishops, Vatican City, September 2021).

Dalam banyak kesempatan, kita kerap menjumpai sesama yang menderita. Dalam situasi itulah kita diajak untuk patuh pada panggilan-Nya agar segera keluar dari zona aman kita untuk menjangkau “periferi” yang butuh diterangi Injil (Evangeli Gaudium, 20). Kita hadir untuk menerangi situasi gelap mereka dengan spirit kefransiskanan yang kita miliki. Pelita karisma kita selalu bisa digunakan untuk menerangi sesama. Akan menjadi soal tersendiri memang jika kita tidak punya antusiasme, semangat yang berkobar-kobar, kesungguhan dan kepedulian untuk menerangi orang lain, barangkali karena pelita bernyala itu ditempatkan “di bawah gantang atau di bawah tempat tidur” sehingga sinarnya terhalang, atau karena dengan keyakinan serta kesadaran yang penuh akan identitas diri, maka pelita itu kita letakkan “di atas kaki dian” sehingga cahayanya memancar ke segenap penjuru dan dengan demikian bisa menerangi orang banyak (bdk. Mat. 5:15).

Dengan bantuan rahmat Allah, kita berharap mudah-mudahan kita, para fransiskan selalu antusias menyinari Gereja. Karisma kita hendaknya terus “menyala” dengan spirit fraternitas dan minoritas yang kita miliki, dan cahayanya menyata dalam tindakan konkret keseharian. Sebab pilihan untuk berpihak pada kaum terpinggirkan adalah manifestasi kasih Allah. Mengasihi mereka adalah wujud konkret dari pengakuan kita akan Allah mahakasih, melalui Kristus yang tersalib; oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53: 5).


Tinggalkan Balasan

sixteen − 9 =