Perjalanan ke gubuk Tuhan mungkin yang paling jauh. Tapi, rentang jarak itu berusaha dipangkas oleh doa. Anak-Nya mengajari “Bapa Kami”. Di situ ada semacam sajak rindu akan rejeki, juga sebuah jenis ratapan memohon dosa diampuni. Kendati, tampaknya si pendoa sedang menitipkan syarat; “itu pun kalau kami sendiri mengampuni yang bersalah kepada kami.”
Tentu ini pekerjaan yang tak mudah! Walau sekurang-kurangnya dengan doa-Nya ini, kita diberi satu pelajaran: peliharalah mulutmu, asal-usul segala kata yang kerap terucap di hadapan yang lain. Doa itu dirangkai dalam kata-kata. Kata-kata, bagi kebanyakan orang, adalah doa. Hendaklah pula kata-katamu tidak kau asah seperti pisau yang tiba pada waktunya kau hujamkan pada jantung sesamamu.
Setidaknya segala yang terucap dari mulutmu bisa lebih banyak memancing senyuman dari pada reaksi amarah dan bahkan tangis yang menjadikan suasana runyam dan rumit. Seperti doa, kata-kata itu menciptakan harapan dan sikap syukur. So, Jadilah pendoa. Dengannya kau akan selalu berani mewartakan harapan serta menjadi penyelamat.
