Bahasa; kata-kata, suara, seruan, sorak-soraian, teriakan dan sejenisnya selalu punya kuasa, punya kekuatan yang kerap memberi maksud dan makna tertentu. Demikian Yesus, gemuruh suara menyambut-Nya dengan begitu semarak. Kerumunan menyoraki-Nya layaknya raja, seorang pembebas. Kata-kata sanjungan menemani antusiasme mereka menyambut seorang utusan Allah. Dengan suara-suara itu Yesus disambut. Dengan kata-kata penuh pujian itu pula IA diterima menyusuri lorong menuju gerbang Yerusalem.
Saya jadi ingat riak-riak suasana di sekitar kita. Relasi sosial, interaksi antarpribadi, dan atau antarkelompok sering kali diramaikan oleh pertukaran komunikasi yang selalu berefek ganda. Tapi kadang jadi menyakitkan ketika efeknya lebih banyak negatif. Barangkali karena ada benih-benih kejahatan yang telah lama tertimbun di kedalaman dada, lalu tiba pada saatnya tercurah dalam aneka bentuk; riuh hujatan di medsos, sorak hinaan di segala lini kehidupan, umbaran kedengkian, warta gosip yang sulit terbendung, dan sebagainya.
Aksi keji terhadap Yesus bisa dibilang bermula dari suara, seruan dan sorakan itu. Orang-orang dengan suara yang samalah yang kemudian meneriaki penyaliban untuk-Nya. Atau beberapa dari mereka justru memilih diam-tanpa suara di hadapan fakta keji yang dialami Yesus. Mereka meninggalkan-Nya tanpa pesan, selain rasa takut dan kebingungan akut.
Saya dan Anda diajak untuk merenung perihal cara berbahasa, tentang bagaimana memproduksi komunikasi, juga tentang cara mempertahankan relasi agar tetap baik dan tidak menyakiti. Sebab, siapa kita sering kali ditentukan oleh bagaimana kita berkomunikasi, juga bagaimana kita memanfaatkan media komunikasi dengan arif. So, kita hendaknya konsisten dalam menyampaikan pesan via suara atau bahasa komunikasi. Sorakan pujian mesti selalu sinkron dengan isi batin, dan harusnya terungkap dengan jujur dari kedalaman hati agar tidak terjerembab ke dalam dosa kemunafikan. Tapi memang kualitas suara dan bahasa komunikasi kita biasanya dipengaruhi oleh kualitas relasi. Jika relasi itu tak kuasa melewati jalan buntu, komunikasi berupa bahasa dan seruan-seruan kita pun bisa sedemikian kejam dan memalukan.
Demikian Yesus dicampakkan oleh seruan dan suara-suara cemoohan itu.
