Tak sedikit orang yang menggugat Tuhan lantaran rahmat tak pernah mau singgah di hidupnya. Bahkan orang-orang itu dengan gagah berucap perihal Tuhan yang tak harus selalu dibutuhkan di saat letih dan sakit sekalipun. Jangan pernah mengirimkan syair dan lirik bernada harapan ke mereka. Bahkan itu akan diterima sebagai buih verbal semata dan dianggap tak berfaedah untuk suatu hidup yang tak hanya enigmatik, tapi juga membosankan.
Memang nyatanya manusia selalu punya ikhtiar mencari senjata pun kuasa, barangkali dengan maksud agar segala celah gelisah segera tuntas terisi dan ia segera sempurna, tanpa cela. Senjatanya diarahkan ke segala arah, asal kelemahannya bisa diselubungkan. Suara hatinya pun tak berhenti bergemuruh, mencari titik aman dari setiap sorak-pujian, dan bukan dari rengkuhan kasih Tuhan.
Barangkali mereka mengira, Tuhan tak harus selalu dibutuhkan. Tapi nyatanya toh selalu ada ruang kosong dalam hidup yang kerap membikin manusia itu gelisah. Ruang kosong itu tak mudah tuntas terisi hanya dengan berpiknik ke tepian, healing, nongkrong dan sejenisnya. Ia juga tidak segera tuntas hanya dengan upah yang diterima melebihi rasa lelah, atau dengan sapaan hangat sahabat karib di pagi hari.
Celah gelisah itu akan selalu tersedia dan tampaknya hingga kini tak habis terisi juga dengan ribuan bahkan jutaan followers yang selalu tampil memesona di linimasa, atau dengan pelbagai varian emotikon yang mengundang senyum dan tawa haru. Semua yang fana memang tak sanggup memenuhi kekosongan, bahkan jika itu adalah sejumlah pelukan dan ciuman, alunan musik, serta rayuan kata-kata di dalam puluhan buku di sudut kamar.
