Perihal Pesimisme Manusia

Selalu tak mudah berjalan ke level makna dan tidak begitu gampang menyingkir dari kenyamanan berada di permukaan. “Kalau hidup yang serba biasa ini bisa disimplifikasi, kenapa mesti dibikin rumit? Kalau hanya bisa mengasihi dia yang juga mengasihi aku, kenapa mesti diajarkan untuk bertindak “lebih”? Kalau ditakdirkan sebagai ‘yang terbatas’, mengapa bersusah-susah meraih kesempurnaan-kekudusan?

Kamu nanya ? ihhh, serius loh iki…

Memang pesimisme terasa lebih kuat sebagai alasan. Menemui nasib buruk tampak lebih mudah ketimbang menemukan hati yang damai di hari esok. Tapi manusia toh berjalan terus dan kerap dengan wajah riang. Apa karena memilih amnesia, tidak sadar bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk rentan yang tak pernah berhenti mendambakan rahmat? Setiap kali kita mengutuk pendosa yang kian hari kian bertambah, setiap kali kita menambah jumlah pembenci di hati kita. Semakin orang merasa diri tidak berdosa, semakin ia menjauh dari jalan kesucian.

Jangan pesimis, begitu kata Guru. Lampaui optimisme, sambung-Nya. Sebab, harapan (akan rahmat-Nya) sudah melekat, yakni untuk survive dan bisa melangkah ringan menuju makna, menuju kekudusan sebagai pengikut-Nya. Kalau pun satu tindakan manusia keliru, IA pasti terus menawarkan rahmat. Tapi, atas nama kebebasan itu, kamu tak boleh kebablasan. Awas kamu! Wkwkwk. So, ingat kawan; manusia (dengan martabatnya) selalu lebih besar dari tindakannya.


Tinggalkan Balasan

four × five =