Hati yang Mengandung Keindahan

Saya diingatkan oleh salah satu akun medsos saya dalam sebuah status yang pernah dibuat: “perjalanan itu indah bila ada tempat untuk kembali..” Rangkaian kata-kata ini lahir dari suatu konteks, juga dari suasana batin yang damai pada suatu siang di bulan Juni 2017 silam. Di tahun itu saya berlibur setelah 5 tahun meninggalkan kampung halaman. Saya begitu yakin bahwa perjalanan itu selalu mengandung karunia: keindahan. Keindahannya menjadi tampak benderang ketika tiba di momen pulang; kembali ke suatu tempat di mana cinta itu tidak dihidupkan melulu dalam teori, tapi dimaknai dan diperjuangkan terus dalam praksis.

Saya tidak menyembunyikan rasa senang kala itu, sebab pulang kembali ke rumah yang selalu ramah, juga halaman desa yang senantiasa menjanjikan tawa-bahagia adalah mimpi setiap orang. Di sana, hal-hal sederhana selalu berhasil menciptakan keindahan, biasa dilakukan dengan tulus dan dengan cinta yang begitu besar. Kerinduan akan keindahan itu terus hidup dalam diri saya, termasuk di dalamnya angan-angan akan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan.

Keindahan memang selalu indah sebagai harapan, tapi juga selalu patut untuk dinantikan dalam realitas harian. Bahkan ketika saya atau Anda adalah orang paling tak beruntung karena banyaknya kelemahan, entah dosa entah kesalahan berupa kelalaian, keindahan yang merupakan karunia itu adalah sesuatu yang mungkin; ia selalu mungkin untuk dicapai, dialami dan dimaknai sekaligus.

Keindahan itu hidup dalam batin setiap pribadi yang hidupnya digerakkan oleh rasa dan sikap syukur, oleh orang-orang yang selalu berpikir positif, oleh pendosa yang ‘sadar diri’ sebagai insan yang direngkuh oleh kasih Allah. Sebagai sesuatu yang inheren dan hidup dalam batin, keindahan itu mengandung kedamaian dan akan terus mengundang cinta untuk terus hadir dan tinggal di hati setiap pribadi. Disposisi batin itu terasa wajib dimiliki terutama ketika perjalanan hidup dimaknai sebagai karunia-keindahan, bukan bencana.

Betapa indahnya tatkala saya dan Anda memiliki disposisi batin seorang pendosa yang selalu tergerak untuk merindukan perjumpaan dengan Allah, seperti Zakheus yang jujur mengakui kekurangannya, tapi sekaligus tetap memiliki kerinduan mendalam untuk menjumpai Yesus (Luk 19:3). Di situlah saya kemudian sadar bahwa keindahan tidak menetap di suatu tempat nun jauh di sana, tapi ternyata ia berdiam dengan tenang di dalam batin, di mana setiap pribadi tahu dan sadar diri sebagai pendosa, tapi selalu berikhtiar merangkul Allah dan mengupayakan pertobatan. Mudah-mudahan dengan bantuan rahmat Allah, identitas pendosa itu bisa segera berubah (minimal) jadi pendoa. Keindahan bisa jadi milik pendoa, jika ia tinggal tetap dalam relasi dengan-Nya: “hidup menjadi indah bila ada tempat untuk kembali (ke rangkulan-Nya).”


Tinggalkan Balasan

19 + twenty =