Ditemukan di suatu kampung: di suatu sudut sekolah beberapa pendidik sedang berbincang hangat sembari bersenda-gurau dengan para muridnya. Di beberapa area lainnya, guru dan murid lainnya bahu-membahu menyelesaikan tugas praktikum. Beberapa yang lainnya sedang memperbincangkan materi belajar, dan yang lainnya lagi berolahraga bersama. Tidak ada relasi subordinasi; guru-murid “melebur”. Kacamata Paul Freire (1921-1997) melihat ini sebagai unsur dialogis dari pendidikan. Di sana tercipta relasi subjek dengan subjek yang bersama-sama menangani dunia dan menamai dunia.
Menangani dan menamai adalah suatu “aktivitas hadir-langsung”, menolak absensi. Di sini Freire menularkan intuisi pedagogis bagi pendidik hari ini berhadapan dengan generasi yang begitu akrab dengan teknologi digital. Keakraban relasi murid dengan gadget bisa berpengaruh pada pola relasinya di dunia riil. Mereka tampak gagap berinteraksi lantaran mentalitas individualistik sebagai ekses dari piranti digital yang selalu digenggamnya. Para pendidik pasti paham fenomena ini. Pelbagai strategi juga tentu sudah diupayakan, mengingat intervensi kognitif saja tidak cukup dalam mendidik. Pendidik harusnya hadir dan terlibat langsung!
Keterlibatan langsung pendidik adalah mutlak perlu. Tentu mengandaikan setiap pribadi mau berdedikasi, memberikan diri tanpa banyak perhitungan dan keluhan, juga kesediaan merelakan ‘waktu pribadi’ demi hadir dan terlibat dalam aneka aktivitas bersama anak-anak didik. Tapi apa daya jika tidak semua menyadari hal ini lantaran self-interest yang mendominasi, minimnya kepekaan serta kendala-kendala personal lainnya. Padahal keterlibatan langsung bisa menjadi sarana formatif dan edukatif yang efektif untuk menginspirasi dan membarui mentalitas orang lain.
Di era teknologi digital yang berkembang begitu pesat ini, tindakan mendidik adalah seni merangkul. Sebab fenomena digitalisasi kian menawarkan ilusi kebebasan yang kerap memancing kecenderungan adiktif anak untuk lihai menangani dan menamai dunia virtual, tapi gagap membangun komunitas riil, minim dalam mengolah kepekaan untuk merangkul yang lain. Para pendidik hendaknya perlu mengingat berikut menyadari pesan Paus Fransiskus: “…to educate is not a profession but an attitude, a way of being…to be in the midst of young people to give them hope, optimism for their journey, in the world.” (7 Juni 2013).
Mendidik adalah cara berada, aksi menemani dan terlibat langsung dalam dinamika harian anak-anak. Inspirasi, harapan dan optimisme bisa mereka temukan dalam perjumpaan, bukan hanya melalui praktik-praktik mentransfer ilmu, aksi penyampaian gagasan, serta nasihat-nasihat dalam lingkup formal. Intervensi kognitif semacam itu tidak punya daya transformatif jika tidak dilengkapi dengan kehadiran dan keterlibatan langsung pendidik . Makin sering absen dari perjumpaan di dunia riil, di sana kecurigaan, stereotip, penghakiman, sikap diskriminatif dan evaluasi subjektif akan bertumbuh subur.
