Selalu dalam Perjalanan

Di saat melakukan perjalanan entah ke arah mana, saya sesekali mengecek memori dengan memakai dua nama orang penting ini sebagai titik fokus: Santo Agustinus dan filosof Gabriel Marcel. Dua nama yang setidaknya mewakili tatkala kita memberi makna pada hidup sebagai suatu ziarah. Baik Agustinus maupun Gabriel Marcel, sepertinya sepakat dengan memperkenalkan manusia sebagai peziarah di dunia. Manusia adalah homo viator; di dunia ini, ia melintasi jalan mencapai titik terjauh yang hendak dicapainya. Tidak lupa pula, saya mengarahkan ingatan akan Fransiskus Assisi, seorang pribadi sederhana yang selalu mau berjalan bersama Tuhan dalam kesederhanaan dan kerendahannya.

Manusia sudah dan selalu menempuh jalan panjang dengan giat betapa pun itu sering kali tidak menenangkan batinnya karena berlika-liku, juga karena tidak sedikit rintangan yang menggodanya untuk segera berhenti dan mengakhiri perjalanan. Tapi sering kali juga rute yang dilewatinya dirasa sangat mengasyikkan, mungkin karena berhasil mengundang senyum dan tawa, rasa takjub dan takjim karena ditemani beberapa kejutan yang menghibur, sekadar menambah daya untuk lekas melanjutkan perjalanan.

Barangkali di separuh jalan ia berjumpa dengan rekan peziarah yang murah hati, lantas menemaninya ketika sedang gelisah dan takut, seperti para murid Yesus yang diyakinkan oleh Yesus, guru mereka untuk tidak takut ketika hendak menyeberang ke Kapernaum di saat badai mengoyak perahu mereka. Kejutan-kejutan itu baiknya diterima sebagai momen rahmat. Kendati paradoks, peziarahan itu seyogianya harus terus berlanjut dan kemudian diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari suatu proses.

Perjalanan dan atau ziarah memang membutuhkan kesungguhan. Itulah mengapa Santo Fransiskus Assisi meminta pengikutnya untuk tidak merasa “cukup-diri”, tetapi mesti selalu bergerak dan berlangkah menempuh perjalanan sejauh mungkin. Ia berucap,”mari kita mulai lagi….” Bahkan ketika separuh jalan sudah dilewati, Fransiskus tetap pada spiritnya untuk selalu memulai, sebab sesungguhnya belum banyak hal yang sudah ia kerjakan. Bahwa di dalam dirinya Fransiskus tahu dan sadar masih terdapat banyak kekurangan. Dan di saat yang sama ia mengajak saya dan Anda untuk tidak cepat berpuas diri, tetapi berani dan percaya diri untuk melangkah maju, berjalan terus tanpa ragu, rendah hati untuk dikoreksi di tengah jalan, bersiap diri untuk ditegur dan diasingkan di tepi jalan dan tidak mudah terbuai oleh sorak-pujian yang sering kali membuat kita keasyikan hingga lupa arah mana yang mestinya dituju.

Selamat berjalan. Boleh berhenti, asalkan hanya sejenak……*)


Tinggalkan Balasan

twenty − nine =