ULANG TAHUN & HADIAH KESUNYIAN

Hadir dalam benak saya kekaguman pada seorang bangsawan di Assisi ribuan tahun lalu, yakni Orlando Catani yang dikenal sebagai seorang pengagum khotbah Santo Fransiskus Assisi. Orlando menghadiahkan kepada Fransiskus sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai La Verna. Di bukit yang sarat sunyi dan menyeramkan ini, Fransiskus berdiam diri, menikmati kesunyian, hening, dan berdoa. Sebagaimana dikenal luas, di sinilah Fransiskus menerima karunia stigmata, meterai lima luka Yesus. Tentu, ini suatu pengalaman mistik yang tiada bandingnya. Takjub dan takjim adalah sedikit perasaan yang terwakili.

Menarik dan inspiratif tatkala dibayangkan betapa Orlando punya intensi yang mulia dan sarat makna di saat memberikan kepada Fransiskus sebuah hadiah indah: kesunyian La Verna. Orlando menghadiahkan si miskin dari Assisi ini sebuah kesunyian; sunyi sebagai hadiah! Fransiskus layak dan patut berterima kasih, selain kepada Allah, juga kepada perpanjangan tangan-Nya yakni Orlando Catani. Sebab bila hadiah itu tidak didapatnya, seremoni tahunan peristiwa stigmata 14 September tidak akan bisa dirayakan oleh segenap Fransiskan. Hadiah Orlando kemudian menjadi hadiah bagi para pengikut Fransiskus.

Sunyi adalah hadiah (gift) yang diperoleh secara gratis, dan karenanya mesti selalu dimaknai sebagai rahmat (grace). Fransiskus mendapat hadiah kesunyian, rahmat yang mengantarnya pada persekutuan dengan Allah. Kesunyian itu lahir di La Verna, dan di sana keheningan menetap dan hidup dengan sangat baik di dalam batin Fransiskus. Ia menjumpai Allah, sekaligus bertemu dengan dirinya yang otentik sebagai seorang pendosa yang selalu butuh rahmat.

Saya terkagum-kagum pada kesunyian, pada seorang Orlando Catani dan tentu saja pada Santo Fransiskus Assisi. Dalam rasa kagum itu, saya pun merindukan hadiah pada perayaan hari lahir saya 6 April 2024 yang lalu. Naluri saya memang merindukan hadiah. Pada saat yang sama beragam ucapan muncul dengan pelbagai macam dan bentuknya yang saya terima sebagai hadiah istimewa. Doa-doa dan ucapan sederhana itu lahir dari ketulusan, yang memang tidak disatukan dalam perayaan atau bahkan pesta; saya menolak pesta! Tetapi, yang lebih sederhana dan selalu meninggalkan kesan abadi adalah hadiah kesunyian dari Ayah dan Ibu saya; papa dan mamaku di rumah. Mereka tidak pandai merangkai kalimat ucapan, juga tidak begitu lihai memperlihatkan foto saya di beranda medsos. Papa dan mama sungguh-sungguh menghadiahkan saya sebuah kesunyian. Dalam sunyi-senyap, mereka mendoakan saya, sekaligus dengan segera mengajak kakak dan adik untuk bersatu-hati dalam doa, dalam sunyi sebagai hadiah terindah buat saya. Hadiah terindah di hari ulang tahun adalah kesunyian: doa papa dan mama di rumah. Terima kasih, Papa-mama!


Tinggalkan Balasan

five × two =