Bapa Kami, Amin!

Konon di sebuah bukit, Yesus mengajar murid-Nya untuk tidak bertele-tele kalau berdoa, seperti orang yang tidak mengenal Allah. Seperti mereka, mungkin kerap doa kita juga diisi dengan begitu banyak rayuan, gombal yang lamis, basa-basi dan caper, kata Joko Pinurbo. Dan doa yang dirangkai dengan kalimat yang sedemikian panjang itu mudah-mudahan segera dikoreksi dan diedit. Di situ, lanjut Jokpin, “jangan-jangan yang tersisa hanya Amin.” Bisa jadi “amin” yang makin dibina akan mendekatkan kita dengan-Nya. Setidaknya jarak tidak menjadi penghalang intensnya ikatan batin dengan Tuhan.

Perjalanan ke gubuk Tuhan kadang tampak seperti peziarahan yang jauh. Tapi, rentang jarak itu berusaha dipangkas oleh doa. Anak-Nya mengajari “Bapa Kami”. Di situ ada semacam sajak rindu akan rejeki, juga sebuah jenis ratapan memohon dosa diampuni. Kendati, tampaknya si pendoa sedang menitipkan syarat; “itu pun kalau kami sendiri mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Tentu ini pekerjaan yang tak mudah! Walau sekurang-kurangnya dengan doa-Nya ini, kita diberi satu pelajaran: “peliharalah mulutmu, asal-usul segala kata yang kerap terucap di hadapan yang lain.” Doa itu dirangkai dalam kata-kata. Kata-kata, bagi kebanyakan orang, adalah doa. Hendaklah pula kata-katamu tidak kau asah seperti pisau yang tiba pada waktunya kau hujamkan pada jantung sesamamu.

Bapa kami yang ada di surga, seperti kami mengampuni yang lain, ampunilah kami!

Amin


Tinggalkan Balasan

1 × one =