Politik itu Bising

Dalam panggung politik, Anda dan saya yang menyandang status warga biasa mungkin tidak lebih dari seorang voter (vox: suara, voter: pemilik suara?). Suara kita adalah incaran para politisi. Kebisingan meneriaki politisi jagoan mungkin terhitung sebagai suara emas dan dianggap berharga di mata para politisi. Makin berisik suara itu, malah makin berharga untuk dijadikan indikator pemenang kontestasi politik. Itulah corak politik; bising tampak lebih seksi dari sunyi.

Situasi bising tidak begitu berjarak dengan sikap fanatik. Fanatisme yang kita bangun hari ini bisa jadi tidak punya dasar yang kuat selain karena kita adalah orang-orang yang mudah terbawa arus emosi, mudah terpancing manipulasi medsos, gampang termakan gimmick. Tapi acap kali kita juga begitu yakin dengan pilihan karena sentimen tertentu; seruan para pemuka agama, ikatan primordial, kepentingan tertentu, dll.

Hal-hal semacam ini kerap memaksa kita untuk selalu terlibat dalam perbincangan politik hingga menimbulkan perdebatan yang tidak karuan. Belum lagi tendensi saling serang personal (ad hominem) tidak pernah absen dari ruang perdebatan itu. Sebaiknya kita sadar bahwa dalam politik, kontroversi akan cepat berubah rupa menjadi konsensi. Pada saatnya para politisi yang kini bertarung akan saling merangkul demi kepentingan politiknya. Saya tak begitu yakin bahwa adegan itu adalah rangkulan rekonsiliatif. Toh pada kenyataannya,  hal itu tidak lebih dari sekadar skenario picik demi kelanggengan pelbagai kepentingan politik dan juga bisnis baik pribadi maupun kelompoknya saja.

Di tengah riuh wacana politik hari ini, tidak banyak orang memilih jalan sunyi. Banyak yang mendadak jadi ahli-pengamat perpolitikan tanah air yang tidak pernah mau melewatkan begitu saja pemberitaan terkini dari ponselnya. Ia begitu mudah melebur dalam kebisingan. Sangat mudah tergila-gila membenarkan aneka kekeliruan politisi yang digemarinya sampai lupa mengurus hal-hal detail dirinya, kehidupannya, masa depannya. Daya kritisnya tergerus oleh fanatisme, dan sikap permisifnya terhadap pelbagai kenyataan buruk di negeri ini justru makin besar.

Debat kusir seputar politik menciptakan kebisingan akut. Itulah mengapa keheningan dan atau ‘jalan sunyi’ tidak pernah jadi pilihan solutif. Politik dibikin seksi ketika dipolesi kebisingan, kedangkalan, keriuhan yang beratasnamakan pesta demokrasi. Itulah sebab mengapa sunyi tidak didekati, seperti sajak yang ditulis Sapardi Djoko Damono;”….sunyi adalah minuman keras”. Betapa sunyi tidak diminati bak miras yang menjanjikan kematian dini. Efek sunyi bisa seperti alkohol yang bisa dinikmati hingga pada akhirnya menghilangkan kewaspadaan lantaran kaburnya kesadaran. Sunyi dikesampingkan karena banyak orang lebih suka melihat realitas yang tegas, tampilan permukaan yang gagah, wacana yang terang kendati manipulatif.

Kesunyian kini dijauhkan dari tatanan sosial, seperti kemabukan miras yang dianggap tidak selaras dengan peradaban. Karena pada saat yang sama banyak orang lebih memilih mabuk politik, mabuk kuasa, mabuk medsos. Bahkan kini kemabukan -yang lawannya adalah kesunyian- itu makin dijunjung tinggi atas nama etika, juga atas nama keberlanjutan pembangunan. Omon kosong! Padahal para politisi yang kita kenal adalah creator kebisingan yang menari karena mabuk kuasa, berdansa menginjak-injak etika, sementara para pemujanya, warga atau voter itu malah ikutan mabuk dan bising.


Tinggalkan Balasan

two × four =