Hati,
kau, tempatku pulang
tak sudi kau diam di seberang
dikau asal-usul tenang
sumber senang…*)
Tidak semua dari kita mau merelakan waktu untuk tenang, sejenak rehat-reflektif, membatinkan nilai beserta prinsip hidup. Kepala, jari, kaki, dan lainnya enggan beristirahat dan memilih giat bekerja ditopang oleh rasa ingin tahu tentang dunia yang mahaluas, juga mungkin perihal kenalan-kenalan masa lalu yang belum berakhir dilabeli musuh. Memang kita sepertinya suka terbang ke pelbagai arah ketimbang memilih tenang. Belum lagi diperdaya oleh hukum senang atau “pleasure principle” menurut istilah Freud. Jadinya susah sekali berkata “cukup” pada hal-hal yang tidak mendesak dimiliki.
Lantaran jarang pulang ke hati untuk menikmati hening, kita jadi begitu grusa-grusu, tak karuan mengelola diri, mengurai konflik, menata hidup. Padahal laku refleksi bisa jadi mengasyikkan untuk senantiasa diburu. Kita jarang berefleksi. Sering lupa introspeksi. Jadinya semua hal dianggap sudah tuntas, padahal kita belum berbuat apa-apa, kata Fransiskus Assisi. Justru karena itu, gusar, kurang ugahari, dan kawan-kawannya itu akan nyaman menemani kita.
