Setiap orang begitu terbiasa bersalaman, berpelukan, saling merangkul bahkan berciuman. Pertanda solidaritas, cinta kasih, dan kehangatan relasi masih selalu hidup dan tetap relevan. Bisa diamati hari ini, di mana-mana ditemukan orang-orang terlibat aktif merayakan Idul Fitri yang ditandai dengan praktik salaman, berangkulan, berpelukan, berciuman. Agama memang menggerakkan umatnya untuk antusias memangkas jarak, hidup rukun berdampingan, bersolider dan saling menghargai. Tentu menarik dan inspiratif!
Saya pun teringat khazanah Fransiskan perihal perjumpaan Santo Fransiskus Assisi dengan Sultan Mesir Malek al Kamil pada 800-an tahun silam. Fransiskus berani memeluk Sultan. Aksi nekat ini ia lakukan pada momen perang salib 1219. Di sana Fransiskus mengambil jalan damai. Dari mulutnya terucap; “Semoga Tuhan memberimu damai.” Tampak mirip dengan salam tradisional Muslim, “assalam o alaikum.” Kata-kata sederhana nan indah ini melengkapi aksi-merangkul Fransiskus terhadap Malek al Kamil. Rangkulan dan ucapan Fransiskus memberi pesan damai. Lantas menjadi suatu peristiwa yang menyejarah, juga menggema sebagai teladan ulung perdamaian dan toleransi.
Tapi, saya sebenarnya lebih berkesan dengan aksi Santo Fransiskus yang satu ini: ia merangkul, memeluk dan mencium orang kusta. Hati Fransiskus digerakkan oleh Tuhan, mengubah secara radikal mindset-nya terhadap kaum terpinggirkan di kota Assisi kala itu. Perjumpaan dengan orang kusta ini kemudian dicatat sebagai titik awal ziarah pertobatan dirinya. Fransiskus merangkul orang-orang sederhana, miskin, kaum terpinggirkan, selain sebagai ekspresi solidaritas dan keberpihakan, tapi terutama sebagai perwujudan ketaatannya pada kehendak Allah; Allah yang solider, yang “merendah”, dan yang menjadi manusia.
Demikian pun Fransiskus selalu dikenal dan dikenang sebagai pribadi yang rendah hati. Di hadapan Tuhan dan sesama, ia selalu menempatkan diri sebagai pendosa yang dirangkul oleh kasih Allah. Ia selalu sadar diri sebagai orang berdosa. Dan dengan niatnya yang murni, berbekal iman yang benar, harapan yang teguh, serta kasih yang utuh, Fransiskus berhasil “merangkul kerapuhannya”, memeluk kelemahannya yang kemudian menjadikan ia bergantung sepenuhnya pada Allah, dan selalu butuh rahmat Allah. Kepada kita, ia mungkin menitipkan pesan: “peluk dan rangkullah yang lemah dan sederhana, sebagaimana engkau merangkul kerapuhan dan kelemahanmu!” Wassalam…..*)
